oleh

Organisasi Islam di Sumsel Bersatu Selamatkan Umat Dari Ancaman Covid-19

 

PALEMBANG – Sejumlah organisasi Islam di Sumsel mendukung sepenuhnya yang dilakukan pemerintah untuk pencegahan penyebaran virus covid-19.

Setidaknya ada empat organisasi Islam kultural mendukung keputusan MUI dan pemerintah serta Dewan Masjid Indonesia untuk membatasi penyelenggaraan Shalat Jumat berjamaah.

Sekretaris Robitho Sumsel Habib Gashim Alkaf dan Sekretaris Jaringan Alumni Timur Tengah Indonesia (Jatti) Sumsel ustadz Windo menyampaikan hal itu di Palembang, Minggu (5/4).

Selain imbauan soal penyelenggaraan ibadah jemaah, pihaknya juga mengimbau untuk meningkatkan sedekah terutama kepada umat yang kurang mampu dan membantu dari keluarga dekat terlebih dahulu.

Beberapa organisasi tersebut di antaranya Al Wafa Bi Ahdillah Sumsel,  Rabitha Alawiyah Cabang Palembang, Majelis Asatidz Peduli Ummat Rasullullah SAW, Jaringan Alumni Timur Tengah Sumsel. Setelah melakukan ijtimah para ulama, pemerintah, ahli medis, maka dibuat kesepakatan, untuk tetap mengikuti, rmematuhi dan mendukung apa yang telah diharapkan dan diarahkan oleh pemerintah dan ahli medis untuk umat Islam agar tidak menyelenggarakan shalat Jumat secara berjamaah dan menggantinya dengan shalat zuhur, demi untuk memutuskan mata rantai penularan covid-19.

Organisasi umat Islam di Sumsel ini atas pertimbangan surat edaran MUI Sumsel tentang hasil rapat koordinasi yang dilakukan pada Selasa (31/3) yang isinya, walikota Palembang tetap memberlakukan seruan bersama yaitu Pemko Palembang, MUI Palembang dan Dewan Masjid Indonesia yang berisikan agar umat Islam Kota Palembang untuk tidak menyelenggarakan Shalat Jumat secara Jemaah di Masjid. Adapun yang berkaitan dengan pelaksanaan Shalat Jumat, masjid yang akan melaksanakan shalat Jumat dipersilakan dengan ketentuan memenuhi kriteria Dinas Kesehatan.

Menurut Habib Gashim, karakter covid-19 yang sulit untuk dideteksi orang lain bahkan oleh pihak medis sekalipun sehingga jalan satu satunya adalah melakukan lockdown total secara serentak atau karantina wilayah.

Dalam kondisi seperti ini maka hendaknya kita tetap melaksanakan Shalat Jumat di rumah atau di tempat kita masing-masing meskipun dengan jumlah yang terbatas dengan mengikuti sebagain pendapat ulama yang mengatakan bahwa sah pelaksanaan Shalat Jumat dilakukan minimal empat orang.

Secara teknis pelaksanaannya, sebagai berikut, salah satu dari mereka minimal empat orang ditunjuk untuk menjadi khatib dan imam, di dalam khutbahnya khatib wajib membaca menyampaikan rukun khutbah, setelah itu dilakukan shalat Jemaah dua rakaat seperti biasa.
“Apa yang kita lakukan sekarang ini adalah bagian ihtiar zahir kita dan seiring itu perlu dilakukan ihtiar batin dengan berzikir , doa dan istighfar,” jelas Gashim.

Menurut Gashim, apa yang kita tuliskan himbauan kita tidak dulu melakukan sholat Jumat bukan keputusan tanpa dasar. Sebelumnya melakukan diskusi dengan paramedis dan dokter.

Dokter yang menjelaskan hal itu
terkait bahaya penularannya yang cepat. Terlalu berbahaya untuk umat. Untuk menyelamatkan umat
dan justru permintaan dari dasar kebaikan yang kita infokan ke umat
Putusan itu diambil karena itu tanggung jawab moral sebagai ulama.

Saat ditanya mengapa lokasi publik yang masih saja berlangsung. Hal itu dimungkinkan asal tetap mengikuti protokol kesehatan dan termasuk fisical distancing. “Mari sama sama mencegah covid 19 dan jangan sampai umat jadi korban,” jelasnya.

 

Copas by :

Tim BERITA PALI Online

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed